PPI GÖTTINGEN
   PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA DI GÖTTINGEN JERMAN
   Vereinigung
Indonesischer Studenten in Göttingen Deutschland

HOME ORGANISASI
MIMBAR EKSPRESI PARADIGMA INFORMASI



Menuntut ilmu, mengais rejeki

Ahmad Maryudi

Kompasiana-2009

Jam gereja tiga kali berdentang dinihari. Kebanyakan masih terlena dalam alam mimpi, namun alarm yang berdering di beberapa sudut kota memaksa sejumlah anak manusia segera mencampakkan selimut tebal dan meloncat dari peraduan empuk. Jaket tebal dan tidak lupa lampu kepala segera dikenakan. Tak lama mereka segera menyusuri jalan-jalan sepi menuju Ablage (depo), mengambil sejumlah paket dan secepat kilat dari satu rumah ke lainnya untuk membagikannya. Tak hirau terpaan udara dingin menusuk tulang, tertatih dalam remang sorot cahaya dengan sepeda buntut. Sejumlah pemuda dengan bau anyir alkohol kadang melintas dan bahkan ‘menyapa‘. Jam 6 pagi, rumah terakhir pun harus segera dicapai.

Begitulah sekilas gambaran sebagian warga Indonesia yang mencoba mencari rejeki di kota Goettingen (Jerman) menjadi loper koran. Kebanyakan mereka adalah pelajar atau keluarganya. Lebih dari 15 tahun, ‘pasukan serangan fajar‘ cukup populer dan sudah menjadi pekerjaan sampingan turun-menurun.

Dulu, mereka yang datang ke Goettingen kebanyakan dalam tugas belajar untuk program master (S2) dan doktor (S3), khususnya bidang ilmu pertanian, kehutanan dan peternakan. Biaya sekolah dan biaya hidup biasanya sudah ditanggung sponsor. Kerja loper koran biasanya hanya untuk mencari tambahan pemasukan untuk semisal menambah tabungan atau untuk sekedar bisa ‘menjajah‘ Eropa.

Namun beberapa tahun terakhir kondisi tersebut mulai berubah; beberapa pelajar untuk bidang lain pun mulai bermunculan, dengan program yang juga mulai bervariasi, termasuk program sarjana (S1). Banyak diantara mereka yang juga mengandalkan beasiswa orang tua, atau bahkan mencoba berjudi dengan hanya mengandalkan kerja part-time. Oleh karena itu, kerja loper koran sekarang dipandang semakin penting dalam mendukung keberhasilan studi.

Saat ini sekitar 15 pelajar Indonesia, laki dan perempuan, di Goettingen menekuni pekerjaan tersebut. Pendapatan yang diperoleh pun bervariasi, antara 250-750 euro, tergantung jumlah Bezirk (daerah) yang dibawa. Semisal dengan penghasilan 350 euro saja sudah cukup untuk hidup di kota ini secara sederhana: membayar flat, biaya hidup dan asuransi kesehatan.

Hujan dan salju merupakan dua hal yang paling dibenci. Di musim dingin, suhu sangat menusuk tulang, bisa mencapai minus 20 derajat. Guyuran hujan (salju) membuat jalan menjadi licin yang menyusahkan dalam berkendara sepeda; disaat yang sama harus menjaga agar koran tetap kering. Flu dan demam sering melanda, namun mereka tetap semangat mengayuh sepeda, walaupun kadang harus ditebus dengan tidur seharian. Bayangan lembaran euro mengalahkan segalanya. Beberapa kadang bercanda “Elo hanya sehat dan kuat di pagi hari, setelahnya kollapse”.

Hampir di berbagai kesempatan –olahraga, diskusi ilmiah maupun sekedar santai bersama- selalu diselingi canda dan bincang tentang ngoran. Sudah menjadi hal biasa jika ada yang berkeluh kesah terlambat mengantar koran karena ban sepada bocor melindas beling. Ada juga yang mempunyai pengalaman korannya sering dicuri, dan terpaksa harus datang lebih pagi dan mengendap-endap untuk menangkap pencurinya, yang ternyata sesama pengoran yang kekurangan koran -walau bukan rekan senegara. Diganggu pemuda mabuk pun menjadi menu sehari-hari, dan tidak ketinggalan pelanggan yang rewel dan menyampaikan reklamationen (komplain). Bahkan nomor Bezirk pun sudah menjadi identitas diri. Pernah dalam suatu acara penyambutan warga/ pelajar baru, seorang pengoran memperkenalkan diri: “Nama saya Painem (samaran), nomor Bezirk 2109″.

Hari Sabtu adalah hari yang paling dibenci sekaligus paling ditunggu. Dibenci karena koran sangat tebal, bisa 2-3 kali dari biasa. Belum lagi para pelanggan seton (hanya hari sabtu saja), yang jumlahnya juga cukup banyak. Ditunggu karena, sabtu merupakan hari terakhir kerja, karena esok harinya libur kerja. Tentunya ada banyak aktivitas lain yang bisa dikerjakan, misalnya olahraga bersama maupun pengajian, karena esoknya tidak harus bangun pagi.

Selain menambah penghasilan, pekerjaan sampingan tersebut terbukti memperkuat solidaritas warga Indonesia di Goettingen. Tidak jarang bila ada yang mengalami kesulitan finansial, para pemegang Bezirk akan meminjamkan atau bahkan memberikannya. Kadang juga jika ada sedang menghadapi ujian semester, yang lain biasanya sukarela menggantikannya. Juga kadang para pengoran saling bantu untuk menanyakan ke boss jika dirasakan gajinya terus berkurang. Kendala bahasa kadangkala menyebabkan keengganan untuk menghubungi boss.

Namun kadang kerja sampingan ini bisa menimbulkan konflik-konflik horisontal antar pelajar, terutama jika jumlah peminat cukup banyak sementara jumlah Bezirk yang beredar di ‘kalangan internal‘ terbatas. Juga, terutama jika ada oknum yang main belakang untuk mendapatkan ‘Bezirk idaman‘. Walaupun begitu, semuanya bisa diselesaikan secara kekeluargaan, karena bagaimanapun persahabatan jauh lebih penting daripada sekedar ngoran. Jauh dari keluarga di tanah air, teman-teman senasiblah yang menjadi keluarga selama di rantau.

Kerja ngoran tentu akan menjadi satu chapter hidup yang cukup special. Entah manis ataupun pahit, tentu akan menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Pernah, seorang doktor alumnus Goettingen yang sudah memegang posisi strategis di tanah air, bercerita bahwa dia kebetulan bertemu kembali dengan mantan bossnya, yang serta merta bertanya: Willst du wieder bei mir arbeiten? (Elo mau kembali kerja lagi dengan saya?). Nah!




Informasi Aktual PPI Göttingen
Dokumentasi PPI Göttingen

 UsefulLinks

 PenaWarga

 DimataMedia

 






Sekretariat PPI Goettingen:
c/o Condro Wibowo, Hermann Rein Strasse 9/314 Goettingen-37075
Email: ppi_goettingen@yahoo.de